Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover 2009 Digelar Bulan Mei Mendatang

Ketika kali pertama digelar pada 2008 lalu, Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover berhasil memperkaya warna jazz Indonesia. Belasan lagu digubah ke dalam aransemen baru yang memadukan jazz dengan electronic dance, pop, dan rock untuk dinyanyikan para musisi terbaik dari masing-masing genre itu.

Tahun ini, Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover digelar lagi. Secara berurutan, even tersebut diadakan di Medan (1/5), Bandung (8/5), Semarang (15/5), Jakarta (22/5), dan berakhir di Surabaya (29/5).

Konsep dan pelaksanaan Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover masih dikendalikan langsung oleh Dji Sam Soe yang menunjuk berbagai pihak berkompeten untuk bekerjasama. Dengan tema “The Music You Know With a Twist”, pergelaran musik itu kembali mencampur jazz dengan berbagai genre musik urban, namun konsepnya dibikin serba lebih!

Stephanus L. Kurniadi selaku Brand Manager Dji Sam Soe menjelaskan, “Tahun ini, kami berniat memperbesar skala Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover. Lebih ramai artis, lebih padat kolaborasi, dan lebih banyak genre di-crossover sehingga bisa menghasilkan warna urban jazz yang lebih variatif. Selain itu, kami telah merancang konsep acara jadi lebih grand.“

Untuk mewujudkan Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover yang serba lebih itu, Dji Sam Soe telah memilih nama-nama ngetop dari berbagai aliran musik. Ada Ari Lasso, Andi/rif, Glenn Fredly, dan diramaikan pula oleh Humania, Dira J. Sugandi, dan Lala (penyanyi/ penulis lagu asal Filipina). Masih ditambah penampilan spesial dari Candil, DJ Cream, Dana (rapper), Yuyun (sinden), dan Daniel (seriosa). Sebagai music director, Dji Sam Soe kembali mempercayakan kepada Eki Puradiredja.

Lebih lanjut Stephanus menambahkan, “Merujuk pada tema ‘The Music You Know With a Twist,’ kali ini kami akan menampilkan lagu-lagu populer dan hits di zamannya. Baik itu lagu milik musisi internasional atau hasil karya para musisi dalam negeri yang terlibat dalam Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover kali ini. Uniknya lagi, karya-karya yang mereka bawakan akan mendapatkan beberapa sentuhan baru seperti klasik dan etnik kontemporer Indonesia dengan ramuan Jazz.”

“Semua lagu yang dimainkan di Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover diaransemen ulang satu per satu dan hasilnya hanya bisa didapatkan di acara ini,” sambung Stephanus. Penikmat musik dewasa yang datang ke Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover dijamin menemukan banyak kejutan. Pasalnya, satu aransemen lagu bisa di-twist dengan beragam genre dan unsur musik berbeda menghasilkan sound baru.

Sementara itu, sesuai konsep acara yang lebih megah, maka pergelaran musik jazz ini akan digelar di ballroom hotel bintang lima di masing-masing kota pelaksanaan. Di samping alasan kapasitas dan kenyamanan penonton, pemilihan ballroom dilakukan agar Dji Sam Soe bisa merealisasikan desain panggung spektakuler.

Dibangun panggung megah ukuran 14 x 10 m agar para musisi leluasa menampilkan stage performance terbaik. Panggung Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover kali ini pun sarat akan special effect. Menggunakan 20 proyektor dan giant screen berdimensi 6 x 12 m, penikmat musik dewasa juga disuguhi bermacam-macam materi multimedia sesuai karakteristik masing-masing lagu.

Penampilan para musisi membawakan lagu-lagu bernuansa urban jazz crossover itu pun semakin hidup dan dramatis berkat sound berkekuatan 20 ribu watt ditambah lighting 50 ribu watt. Tak berlebihan jika Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover disebut even wajib bagi para penikmat musik dewasa.

Sumber : Wartajazz Dot Com

LA Lights Concert Present JAMIROQUAI

Posted On April 28, 2009

Filed under Latest News
Tags:

Comments Dropped leave a response

“Wah, akhirnya yah. Kesampaian juga neh liat Jay Kay joget di depan mata kita.” Ucap teman saya berkomentar. Yup, Jay Kay pentolan band beraliran Acid Jazz asal London, Inggris Jamiroquai. Akhirnya sukses memuaskan dan menghipnotis sekitar 7000 penonton yang hadir di gedung Sentul City Convention Center, (yang terletak di daerah Sentul Bogor Jawa barat) untuk melihat langsung Jamiroquai perform. Konser dari Jamiroquai ini dibuka oleh penampilan dari seorang penyanyi wanita bernama Dimi. Mantan personil band Maliq & The Esentials ini tampil sangat menawan malam itu. Beberapa kali Dimi pun memberikan kejutan untuk penonton, dengan berkolaborasi bersama beberapa penyanyi , seperti Afgan, Yacko dan lainnya. Setelah Dimi turun, panggung dibiarkan sepi sebentar. Dan tak lama kemudiaan, P Double sang Mc pun mengajak semua penonton yang hadir malam itu untuk menyanyikan lagu kebangsaan kita yang berjudul Indonesia Raya. Dipimpim oleh penyanyi pria bernama Judika. Sekitar 7000 penonton yang hadir pun menyanyikan lagu kebangsan tersebut dengan khidmat dan jujur saja, aura Nasionalisme sebagai bangsa Indonesia pun menjadi sebuah momentum yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata ketika semua orang yang hadir malam itu menyanyikan lagu kebangsaan negerei kita tercinta ini. Mantap!

Selesai semua manusia yang hadir di malam itu menyanyikan lagu Indonesia Raya, panggung dibiarkan sepi sekitar 5 menit, dan tak lama kemudian. Satu persatu personil Jamiroquai ini pun muncul ke atas panggung. Dalam hitungan detik, sang frontman Jay Kay muncul ke atas panggung dengan berlari ke segala arah. Sambil berkata, “Jakarta” yang langsung di balas dengan applause serta suara teriakan dan jeritan penonton. Jamiroquai langsung menggeber lagu berjudul The Kids sebagai lagu pertama, yang disusul langsung oleh lagu-lagu atau hits mereka seperti High Times, Seven Days in Sunny June, Allright, Little L, Black Capricon Day, Canned Heat, Use The Force, Travelling Without Moving, Cosmic Girl, Space Cowboy, dan Love foolosophy. Lalu apakah penonton menggila? Pastinya! Sempat pula Jay kay berkata, “Saya dengar besok (tanggal 9/04/09) kalian akan melakukan pemilihan? Well, kalian harus memilih besok. Jangan sampai tidak, atau kalian akan kehilangan kesempatan” ucap cowok yang mempunyai body moving sangat indah ini. Tentu para penonton memberikan applause yang sangat meriah terhadap kata-kata Jay Kay tersebut. Sehabis membawakan lagu Love Foolosophy, Jay Kay dan kawan-kawan menghilang ke belakang panggung, sebuah encore? Yup. Sontak 7000 ribu orang yang hadir malam itu berteriak, “We Want More” berulang-ulang kali. Tak lama kemudian, Jamiroquai muncul lagi dan membawakan lagu penutup berjudul Deeper Underground.

Sangat disayangkan ada sedikit insiden kecil, (banyak penonton yang seharusnya duduk dibagian belakang, tiba-tiba saja loncat dan maju ke depan) namun sepertinya tidak berpengaruh besar terhadap kesuksesan konser ini. Tetapi, ada juga kejadian yang sepertinya membuat Jay Kay menjadi lebih bersemangat. Yaitu sewaktu, semua orang berlari memenuhi daerah bibir panggung dan berdansa liar. “That’s more I like it” ucap Jay Kay melihat ratusan orang berdansa riang dan bersemangat mengikuti alunan lagu dari Jamiroquai. Atau memang insiden tersebut adalah bagian dari show Jamiroquai ini? I Hope so. Selesai memainkan lagu penutup (Deeper Underground), Jay Kay pun berkata, “Thank you Jakarta. We’ll see you next year”. Setelah itu pun dia berlari menghilang kebelakang panggung. Over all, konser dari Jamiroquai ini sangat-sangat spektakuler dan entertaining sekali. Karena saya yakin semua orang yang hadir malam itu pasti (setidaknya) menggerakkan salah satu anggota tubuh mereka mengikuti irama dari lagu-lagu Jamiroquai. Puas sudah pasti! Mungkin kata yang bisa merepresentasikan konser ini adalah, rusuh namun sangat-sangat menghibur! “Rugi banget neh yang gak nonton Jamiroquia malam ini, sumpah! “ ucap beberapa teman saya berkomentar tentang konser ini. Terima kasih untuk Java Festival Production atas terselenggaranya liputan ini.

Penulis : Rullyboy

Sumber : Whatzups Dot Com

Natalie Cole Concert – Still Unforgettable

Posted On April 28, 2009

Filed under Latest News
Tags:

Comments Dropped leave a response

Natalie Maria Cole artis kelahiran tahun 1950 ini tentu sudah tidak asing bagi anda pecinta Jazz, terlahir dari seorang nama besar Nat King Cole dan ibunya yang juga penyanyi orkestra jazz Duke Ellington, Maria Hawkins, Natalie Cole juga telah memiliki prestasi sendiri di dunia Jazz. 10 Grammy Awards yang diraihnya tentu bukan prestasi kecil baginya, belum termasuk berbagai penghargaan-penghargaan lainnya yang telah diraihnya. JuzzJazz.com yang juga menjadi Official Online Media Partner di acara ini mendapat kehormatan untuk me-review penuh konsernya di Jakarta kali ini.

Hadir di Jakarta untuk konser tunggalnya di Hotel Gran Melia Jakarta, Natalie datang bersama big band nya, sambutan penonton juga sangat meriah ketika konser yang hampir penuh 90% ini dimulai. Mengenakan gaun kuning muda, Natalie Cole tampak lebih muda dan menyuguhkan penampilan yang lebih segar dengan rambut nya yang pendek. Dimulai pukul 20.30,segera konser ini tanpa basa-basi dibuka oleh lagu ‘Come Rain, Come Shine’, kemudian disambung oleh Something’s Gotta Give sebelum akhirnya Natalie Cole menyapa pengunjung konser yang dibesut Majalah Marketing bekerjasama dengan Buena Production ini.

Lagu ‘Orange Colored Sky’ yang juga lagu original Natalie Cole dibawakan dengan sempurna, dan menjadi penyegar di awal konser ini sebelum akhirnya Natalie Cole menyanyikan ‘Nice And Easy’, lagu yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra ini dibawakan dengan aransemen lembut oleh Big Band nya. Lagu yang juga tidak asing lagi ‘Walking My Baby Back Home’ menjadi penyambung yang terus membawa penonton larut dalam suasan glamour malam ini.

Tak lupa disela-sela pertunjukan, Natalie Cole mengucapkan bahwa ia sangat kagum dengan sosok ayahnya Nat King Cole yang akhirnya disambung oleh beberapa lagu ciptaan Ayahnya, salah satunya adalah ‘Smile’ yang dipopulerkan oleh Charlie Chaplin. Penonton pun terbawa hanyut ke dalam nostalgia kejayaan lagu yang sudah hadir lebih dr 6 dekade ini. Disambung lagi oleh lagu ‘Somewhere Along The Way’, dan ‘Unforgettable’ inilah momen puncak konser malam ini saat Natalie menghadirkan suara asli ayah nya dan bernyanyi duet di lagu Unforgettable, video slide-show yang diputar dan mengambil gambar Nat King Cole bernyanyi juga menghadirkan suasana ‘magis’ sendiri dan membuat seakan-akan Nat King Cole yang meninggal karena Kanker Paru juga hadir malam ini. Penonton pun larut dalam lagu ini sambil menyanyikan lagu yang telah masuk kategori lagu abadi ini. L.O.V.E, Miss You Like Crazy, When I Fall In Love ,Good To Be Back adalah beberapa track yang juga turut dibawakan Natalie malam ini. Sayang sekali di tengah-tengah konser ini, sempat Natalie Cole menegur salah satu penonton yang mengambil gambar dengan VideoCam, sepertinya penonton juga harus belajar lagi untuk lebih menghargai konser sekelas ini.

Konser yang menjadi penyambung suasana Jazz setelah Java Jazz ini tergolong sukses, tak lepas dari peran Majalah Marketing yang turut menghadirkan konsep baru bagi para perusahaan-perusahaan untuk menjadikan ini momen spesial bagi klien-klien atau nasabah prioritas mereka.

Sumber : Juzzjazz Dot Com

Di JJF 2009, Slank Bikin Pemilu

Posted On March 9, 2009

Filed under Latest News
Tags:

Comments Dropped leave a response

Boleh dibilang, selalu ada yang menarik dalam penampilan Slank. Begitu juga ketika band kawakan ini untuk pertama kalinya didapuk tampil dalam Jakarta International Java Jazz Festival 2009 (JJF 2009).

Sebelum tiga lagu terakhir, tepatnya pada lagu Entah Jadi Apa, Slank sesaat menghentikan lagu itu. Kaka, sang vokalis, meminta para penonton di depan Stage 2 Exhibition Hall B memberi suaranya, seperti dalam Pemilu, untuk menjawab empat pertanyaan yang dilontarkannya. Kaka memberi hanya dua jawaban pilihan–mungkin atau enggak mungkin.

Pertanyaan pertama yang dilontarkan Kaka berbunyi, “Apakah SBY akan terpilih lagi pada Pemilu tahun ini ?”. Penonyon serentak menjawab, “Mungkin.” Berikutnya, “Apakah JK akan naik pangkat dan menjadi presiden?” Suara terbanyak bilang, “Enggak mungkin.”

Kaka meneruskan, “Mungkinkah golput akan lebih banyak daripada pemilih di tahun ini?” Penonton berseru, “Mungkin.” Terakhir, “Mungkinkah presiden kita nanti dari seorang jenderal seperti Jenderal Naga Bonar?” Penonton kompak menjawab, “Mungkin.”

Slank tampil di sore terakhir JJF 2009, Minggu (8/3). “Ini pertama kalinya kami berada di Java Jazz Festival dan ini seperti ujian buat kami, bisa enggak Slank membuat hari ketiga Java Jazz Festival lebih happening,” kata Kaka.

Dalam tema Goes to Jazz, lagu-lagu milik Slank bergulir satu persatu. Meski musik mereka lebih kental dengan pop-rock n’ blues, Kaka, Bimbim (drum), Abdee (gitar), Ridho (gitar), dan Ivanka (bas) tetap mampu memuaskan penonton.

Pertunjukan dibuka dengan lagu keras Ngangkang. Kaka cs menghentak Exhibition Hall B, yang berisi kira-kira 2.000 orang. Jika biasanya konser Slank dipenuhi Slankers yang kebanyakan laki-laki dan antusias sampai berjingkrak-jingkrak, dalam JJF 2009 penonton Slank lebih kalem, meski mereka juga ikut bernyanyi dalam beberapa lagu. Agaknya sadar akan hal itu, Kaka berujar, “Baru kali ini kebanyakan penonton kami wanita. Jadi, terasa segar.”

Usai lagu pertama, muncul sejumlah pemusik jazz. Ron King (trompet) bersama dua pemain saksofon dan satu pemain trombon serta Toni Monaco (keyboard). Mereka mengiringi lima lagu Slank, Pisah Saja Dulu, Fullmoon Blues, Gosip Jalanan, Jinna, dan PLUR. Terdengarlah sedikit nuansa jazz pada musik rock Slank. Sayangnya, sound system kurang bekerja baik. Tiupan trompet Ron jadi kurang terdengar.

Nyanyian penonton semakin jelas terdengar ketika Kaka membawakan dua hit Slank Terlalu Manis dan Jauh. Menutup pertunjukan berisi 12 lagu itu, Slank menyuguhkan Reaksi. Tepukan membahana menunjukkan bahwa Slank lulus ujian untuk penampilan perdana mereka di JJF.

Sebelum Slank, sembilan pertunjukan telah mendahului di sembilan panggung. Di antaranya, David Manuhutu di Pre Function Hall A, Aditya di Cendrawasih 1 dan 2, La’Biri di Kasuari Lounge, dan Living Room di Lobby Stage 2.

Penulis : Rawdhatul Ifadah

Sumber : Kompas Entertainment

JJF 2009 Day 3 : Gary Anthony SWING the Festival

Posted On March 9, 2009

Filed under Latest News
Tags:

Comments Dropped leave a response

Di hari ketiga sekaligus hari terakhir Java Jazz 2009 ini, jumlah pengunjung dirasakan sedikit berkurang dari 2 hari sebelumnya. Perkiraan sebagian kalangan bahwa hari ketiga akan sedikit lenggang ternyata cukup terbukti, juga pengaruh show Jason Mraz yang tidak lagi ada di hari ke 3 ternyata membawa angin segar dan lega bahwa hari ke 3 ini pengunjung tidak terlalu berdesak-desakan.

Namun bukan berarti hari ke 3 ini pertunjukkannya tidak bagus, justru beberapa artis yang sebelumnya sedikit asing di telinga pecinta Jazz langsung menunjukkan bahwa mereka memang pantas tampil di festival Jazz terbesar di Asia Tenggara ini, Parov Stelar adalah salah satunya. Parov Stelar, mengusung konsep baru dalam Nu-Jazz, dia sungguh sangat berani menggabungkan musik techno khas Eropa dengan permainan saxophone yang dimainkan rekannya. Mengusung tema disco, Parov Stelar langsung mengajak penontonnya bergoyang, tak dapat dipungkiri, hall Cendrawasih pun langsung heboh dan penonton seakan-akan terhipnotis dengan duo ini.

Beberapa artis lokal pun membuat kejutan, Slank misalnya,band yang dijuluki band terbaik di indonesia ini ternyata mampu menjawab tantangan di Java Jazz kali ini, Slank langsung menarik ratusan penonton di Exhibition Stage dengan penampilannya yang spektakuler. Dari daerah, Phinis-Makassar dan Tropical Transit-Bali juga tidak kalah unjuk gigi, Tropical Transit yang tampil di hall Cendrawasih langsung membakar dupa dan membuat seluruh hall tersebut terbawa ke suasana ’suci’ ala Bali, penampilan mereka yang mengusung tema fusion digabung dengan etnik juga membuat penonton terkejut, terlebih saat lagu Sanur dibawakan, permainan apik setiap personil dengan karakter etnik yang kuat adalah hal yang patut diacungi jempol.

Akhirnya setelah banyaknya pertunjukkan dengan permainan fusion, pop-jazz, crossover, dan sub genre jazz lainnya, adalah Gary Anthony yang menjawab animo sebagian penggemar Jazz Klasik dengan membawakan Swing dengan lagu-lagu Frank Sinatra. Gary Anthony tampil menakjubkan, dari lagu pertama hingga lagu terakhir penonton sangat ‘gila’ dan ingin terus berada dan menyaksikan pertunjukkan mereka. Jadwal yang seharusnya 22.30 sempat tertunda hingga 20.50, begitu pintu ‘Assembly 3′ dibuka, langsung penonton yang sudah setia menunggu dengan sedikit bersesakan berlari mencari tempat yang paling strategis untuk menikmati satu-satu pertunjukkan musik Swing di Java Jazz Festival 2009 ini. Sebut saja, Come Fly With Me, All The Way, Nice And Easy, My Way yang kesemuanya adalah track-track hit dan jazz standard oleh Frank Sinatra dibawakan nyaris sempurna oleh Gary Anthony, Ron King Big Band juga benar-benar menyajikan musik swing sesungguh nya di Java Jazz 2009 ini. New York yang seharusnya menjadi lagu penutup pertunjukkan ini ternyata belum cukup untuk mengobati penontonnya untuk menikmati Swing, ‘ WE WANT MORE !! “ itu lah teriakan seluruh pengunjung malam ini terhadap Gary Anthony dan Ron King Big Band, akhirnya ‘Mack The Knife’ pun kembali meluncur. Dibawakan dengan versi standard Frank Sinatra, Gary Anthony sedikit ‘memodifikasi’ lirik-lirik lagu yang aslinya asal Jerman ini. Terhitung 2 hingga 3 kali penonton memberikan ‘Standing Applause’, Peter F Gontha yang sangat jarang sekali muncul di panggung, secara khusus Peter F Gontha naik ke panggung berterima kasih kepada Gary Anthony beserta Ron King Big Band sekaligus memperkenalkan, dan memberikan ke setiap anggota Big Band DVD Pertunjukkan Gary Anthony dan Ron King Big Band di Java Jazz tahun lalu. Sebuah pertunjukkan yang luar biasa sekaligus menjadi salah satu pertunjukkan penutup malam ini.

Java Jazz Festival yang saat ini sudah diakui dunia menjadi salah satu Festival Jazz terbesar di dunia tentu sangat ditunggu di 2010 nanti, sejumlah nama pun telah di persiapkan dan ‘diminta’ oleh fans-fans setia jazz di Indonesia. Tentunya perbaikan-perbaikan kualitas pertunjukkan sangat diharapkan setelah berbagai indikasi bahwa festival ini semakin membesar dan membutuhkan venue yang lebih besar pula. Pihal Java Festival Production pun telah mengisyaratkan adanya perpindahan lokasi pertunjukkan menjadi di area PRJ – Kemayoran Jakarta. Maju terus Java Jazz Festival untuk memajukan Jazz di Indonesia !!! ( Patrick Gerard – JuzzJazz.com )

Sumber : JuzzJazz Dot Com

Dan Penonton Pun Menyanyikan “I`m Yours” Bersama Jason Mraz

Posted On March 8, 2009

Filed under Latest News

Comments Dropped leave a response

Penyanyi asal Virginia, Amerikat Serikat, Jason Mraz untuk kedua kalinya kembali membius penonton Axis International Java Jazz Festival yang berlangsung di Plenary Hall JCC Senayan Jakarta, Sabtu malam setelah tampil pada Jumat malam.

Dengan diiringi oleh “Super band”-nya, Jason tampil menyanyikan sekitar 12 lagu dalam pertunjukan selama kurang lebih 80 menit itu yang dimulai pukul 18.00.

Ratusan penonton yang memenuhi Plenary Hall terlihat menikmati lantunan lagu-lagu penyanyi kelahiran 23 Juni 1977 itu, apalagi ketika Jason menyanyikan salah satu lagu hitnya yaitu “Lucky” bersama dengan penyanyi muda berbakat Indonesia, Dira.

Ketika intro lagu “Lucky” berkumandang, serentak penonton kemudian turut menyanyikan bersama dengan Jason sambil mengangguk-anggukan kepala.

Penonton kembali menunjukkan antusiasnya ketika Jason menyanyikan hits keduanya yaitu “I`m Yours” dan ikut bernyanyi bersamanya.

Pemandangan yang menarik ketika penyanyi yang telah mengeluarkan tiga album itu mulai menyanyikan “I`m Yours”, sebagian besar penonton yang berdiri di depan panggung maupun di balkon mengacungkan kamera pocket maupun ponsel mereka untuk merekam Jason menyanyikan hits keduanya itu.

Penonton yang sebagian besar anak muda itu dengan bersemangat ikut menyanyikan petikan lagu “I`m Yours” yang dibawakan Jason dan Super band dengan nuansa ska yang kental.

Penampilan malam ini, tujuh personil Super Band tampak mengenakan batik dan Jason sendiri mengenakan baju putih bernuansa batik serta tidak lupa mengenakan topi “Fedora Hat” kesukaannya.

Penonton pun tampak menikmati pentas Jason sambil bergoyang, berpegangan tangan atau berpelukan mesra dengan pasangannya.

Kemudian Jason mengajak penonton berinteraksi dengan bernyanyi bersahut-sahutan dengannya sambil membawakan medley lagu penyanyi kenamaan Bob Marley “Everthing is gonna be Allright”.

Usai menyanyikan lagu kesebelas, Jason agak sedikit terganggu dengan microphone yang sempat mati ketika dia akan berpamitan dengan penonton.

Jason yang musiknya terpengaruh oleh jenis musik reggae, ska, pop, rock, folk, jazz dan hip hop ini telah menelurkan tiga album yaitu “Waiting for My Rocket to Come” (2002), “Mr A – Z” (2005) yang masuk nominasi Grammy Award untuk kategori Best Engineered Album, dan album ketiganya “We SIng We Dance We Steal Thing” yang dirilis Mei 2008.

Java Jazz Festival yang berlangsung di Balai Sidang Jakarta, pada 6 hingga 9 Maret mendatang, akan menghadirkan lebih dari 200 pertunjukan dengan total musisi yang berpartisipasi lebih dari 2.000 orang, baik musisi Indonesia maupun mancanegara.

Java Jazz 2009 menghadirkan sederet artis jazz, di antaranya Jason Mraz, Matt Bianco, Swing Out Sister, New York Voices, Mike Stern, Dave Weckl, Peabo Bryson, dan Brian Mc Knight.

Sementara dari dalam negeri akan tampil Benny Likumahuwa, Oele Pattiselanno, Margie Segers, Bob Tutupoly, Noor Bersaudara, Chaseiro, Dewa Budjana, Glen Fredly, Tohpati, Aksan Sjuman, Tompi, Ecoutez, Dira, Dimi, dan Nial Djuliarso.

Sumber : Antara News

Laura Fygi Hibur Widyawati

Posted On March 8, 2009

Filed under Latest News
Tags:

Comments Dropped leave a response

Di hari kedua Java Jazz Festival  2009 (JJF 2009), Sabtu (7/3), gedung Jakarta Convention Centre (JCC) semakin sesak. Para pengunjung, yang berjalan dari satu tempat pertunjukan ke tempat pertunjukan lain, harus selalu waspada. Jika tidak, pasti akan tertabrak sana-sini. Ditambah lagi, di hari kedua, JJF 2009  seakan memberi pilihan sulit untuk para pembeli tiket harian maupun special show.

Jam pertunjukan yang berdekatan, bahkan hampir berbarengan, cukup merepotkan. Pertunjukan mana yang harus diprioritaskan untuk dilihat, apalagi belum tentu tahun depan ada lagi di JJF. Seperti artis musik asal Belanda Laura Fygi, yang mengisi panggung  Assembly 1. Untuk mendapat posisi nyaman menyimak aksi energik Fygi, Indah, salah seorang pengunjung terpaksa hanya menonton sebagian penampilan Glenn Fredly, yang membawakan lagu-lagu milik mendiang Chrisye di Plenary Hall, yang dimulai sejak pukul 20.30 WIB.

Fygi memang baru akan tampil pada pujkul 21.30 WIB. Tapi, untuk mendapat tempat paling nyaman, yakni sejurus di hadapan panggung, penonton setidaknya harus berdiri di depan pintu masuk setengah jam sebelumnya.

Menyaksikan Fygi kembali di JJF, setelah penampilannya pada 2005, merupakan pilihan tepat. Selain vokalnya yang empuk dan hangat, tariannya di atas pentas juga amat menghibur.

Dua puluh lagu disuguhkan oleh Fygi dengan diiringi lima pemain bandnya. Nyanyian-nyanyiannya mendapat sambutan yang hangat. Bahkan, aktris senior Widyawati, istri mendiang aktor dan politisi Sophan Sophiaan, tampak asyik mengikuti beberapa lagu yang disuguhkan oleh Fygi.

Sebelum Fygi beraksi dengan lagu-lagu Latin dan Prancis yang dibawakannya dengan sangat fasih, di Assembly 2 duet bintang dalam negeri bersenjatakan gitar, Dewa Budjana dan Tohpati, mampu mengaduk perasaan penonton yang memusatkan perhatian mereka kepada kelihaian jemari Budjana dan Tohpati. Budjana dan Tohpati antara lain membawakan lagu Sheila on 7, Dan, dan lagu  Chrisye, Kisah Cintaku, yang tentu saja dengan improvisasi.

Pada waktu bersamaan, RAN beraksi di Exhibition Hall B, Stage 2, dan Syaharani & Queenfireworks di Cendrawasih 3, melengkapi JJF 2009 di hari kedua. Sementara itu, Jason Mraz dan Matt Bianco tampil untuk kedua kalinya dan masih mampu menyedot perhatian penonton.

Penulis : Rawdhatul Ifadah

Sumber : Kompas Entertainment

Musisi Lokal Tidak Kalah Pamor

Posted On March 8, 2009

Filed under Latest News
Tags:

Comments Dropped leave a response

Setiap tahun pada pergelaran Java Jazz, ruangan Cendrawasih 1 dan 2 selalu dipadati penonton, bahkan sampai meluber. Bukti bahwa di mata publik lokal para penampil dari Indonesia tidak kalah pamor dan mampu bersaing dengan musisi dari luar negeri dalam ”memperebutkan” peminat.

Begitu pula pada Axis Java Jazz Festival 2009. Panggung Cendrawasih 1 dan 2 digebrak oleh penampilan Tangga, Cindy Bernadette, Afgan, Humania, dan Dhruv, Jumat (6/3). Mereka memuaskan telinga ribuan penonton yang tidak hanya berdiri, namun ada yang duduk ngelesot di lantai.

Sejenak menengok ke belakang, tahun lalu penyanyi Dewi Sandra pun merasa puas dengan antusiasme penonton yang membeludak. ”Aku enggak nyangka, begitu banyak,” katanya waktu itu.

Begitu pula dengan grup band Emerald yang tampil pada Java Jazz 2007. Vokalis Emerald, Ricky Johannes, tak percaya sambutan penonton begitu heboh. ”Kirain kalau sudah level Java Jazz, penyanyi  Indonesia kurang dianggep lagi karena bintang dari luar negeri udah bertaburan. Apalagi kayak Emerald yang lama tak muncul,” begitu katanya.

Tangga memikat

Ruang Cendrawasih 1 dan 2 pada Java Jazz 2009 ini dibuka dengan penampilan kelompok vokal Tangga dengan awak Kamga (21), Tata (24), Nerra (24), dan Chevrina (20) pada Jumat sore pukul 16.45. Tangga menyanyikan sejumlah lagu andalan dan populer seperti ”Terbaik Untukmu”, ”Kesempatan Kedua”, dan ”Hebat”.

Di tengah-tengah pertunjukan, Tata yang adiknya penggebuk drum Element, Didi Riyadi, berseru, ”Tangga ini sebenarnya beraliran pop, bahkan se-pop-popnya. Tapi justru itulah. Pop adalah aliran yang paling enak diperkosa.”

Bagi Tangga, pengalaman kali ini sangat berkesan. Pertunjukan di Java Jazz ini adalah pentas pertama grup ini di tahun 2009. Sebuah awal yang baik. ”Tangga bangga bisa menjadi bagian dari kelompok vokal yang paling sedikit di Indonesia. Di Java Jazz, Tangga menyesuaikan dengan musik jazz yang banyak improvisasi,” tutur Kamga, vokalis yang jangkung dan hitam manis.

Tangga pun menyanyikan beberapa lagu milik beberapa kelompok vokal secara medley. Diawali dengan lagu ”Kerinduanku” dari AB Three, lalu ”Rindu Ini” dari Warna, ”Cinta Semu” milik Tofu, dan ”Putus Nyambung” serta ”Let’s Dance Together” dari Bukan Bintang Biasa.

Saat menyanyi lagu ”Putus Nyambung” inilah penonton tidak dapat menahan tawa. Lucu tapi sangat bagus. ”Putus Nyambung” menjadi terdengar berbeda ketika dinyanyikan dengan musik swing. Keren….

Kebanyakan ABG

Penyanyi Afgan tampil sekitar pukul 21.00 malam. Di ruang itu, sekitar 5.000 orang rela berdiri dan berdesak-desakan untuk melihat penampilan penyanyi muda pop itu.

Sebagaimana pertunjukan Afgan lainnya, sebagian besar penonton adalah remaja alias anak baru gede (ABG), terutama yang berdiri di barisan depan. Hampir sepanjang pertunjukan, sebagian dari mereka terus meneriakkan nama, ”Afgan… Afgan… Afgan.” Sebagian lagi sibuk memotret setiap gerak Afgan dengan kamera di telepon selulernya.

Mereka bertambah heboh ketika Afgan menyanyikan dua lagu yang melambungkan namanya, ”Terima Kasih Cinta” dan ”Sadis”. Namun, kedua lagu tersebut diberi sentuhan musik disko sehingga terdengar agak rancak. Penonton ABG yang umumnya mengenal kedua lagu itu dalam aransemen pop lembut, tanpa dikomando ikut menyanyikan lagu itu.

Afgan juga membawakan lagu-lagu pop yang populer di akhir tahun 1980-an, seperti ”Tak Kuduga” (dipopulerkan Ruth Sahanaya) dan ”Sakura” (Fariz RM).

Sekitar satu jam setelah Afgan, Humania tampil di panggung yang sama. Kali ini, penonton yang merangsek ke depan panggung kebanyakan penonton usia 25 tahunan ke atas. Malam itu, Humania membawakan kombinasi lagu baru dan lagu-lagu seperti ”Terserah”. Musik pop bernuansa jazz yang mereka usung mampu mengajak sebagian penonton bergoyang hingga akhir pertunjukan.

Di Panggung Lobi 2, grup Souleh & Souleha mencuri perhatian para pengunjung yang lalu lalang di arena Java Jazz lewat lagu-lagu jazz dan pop. Grup band itu tampil santai dan komunikatif dengan penonton. Tidak heran, jika penonton memberi sambutan hingga pertunjukan berakhir. Di Dji Sam Soe Lounge, Drew tampil menawan lewat lagu-lagu berirama pop dan blues.

Begitulah tiap tahun sejak 2005 ruang Cendrawasih menjadi saksi pertunjukan penyanyi lokal di ajang Java Jazz, yang layak diperhitungkan. Di ruang ini pernah manggung antara lain Glenn Fredly, Marcell, Tohpati, Iga Mawarni, 5 Wanita, Indra Lesmana, Kahitna, Rieka Roeslan, Ecoutez, Maliq and D’Essentials, Syaharani, dan Ruth Sahanaya.
Penulis : Budi Suwarna & Susi Ivvaty

Sumber : Harian Kompas

Wapres: “Java Jazz” Promosi Positif Bagi Indonesia

Posted On March 7, 2009

Filed under Latest News
Tags:

Comments Dropped leave a response

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan penyelenggaraan Jakarta International Java Jazz 2009, dapat menjadi ajang promosi positif bagi Indonesia di dunia internasional.

“Penyelenggraan Java Jazz dapat menciptakan citra positif yakni bahwa ekonomi dan keamanan Indonesia baik,” katanya, usai menyaksikan  Java Jazz di Balai Sidang Senayan, Jumat malam.

Dia mengatakan, acara tersebut juga dapat mempromosikan hasil kreatifitas generasi muda Indonesia dalam bermusik sehingga industri musik berkembang di tanah air.

“Melalui penyelenggaraan Java Jazz, Indonesia dapat pula meningkatkan tingkat kunjungan wisatawan mancanegara. Jadi, melalui kreatifitas bermusik, didukung penyelenggaraan yang baik dapat memberikan berbagai hal positif bagi Indonesia tidak sekadar hiburan tetapi juga ekonomi seperti penciptaan lapangan kerja,” tuturnya didampingi Ketua Java Jazz Peter F Gontha.

Dia mencontohkan, mempersiapkan perhelatan tahunan Java Jazz memerlukan  tenaga kerja yang cukup besar mulai dari tahap persiapan hingga akhir pertunjukan yang memakan waktu lebih dari sebulan.

Wapres mengatakan pemerintah  terus memberikan dukungan untuk menumbuhkembangkan kreatifitas generasi muda termasuk dalam dunia musik.

“Untuk tahun ini kali pertama pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp300 juta untuk Java Jazz melalui Departemen Perdagangan dan Rp350 juta dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,” ungkap Wapres.

Kehadiran Jusuf Kalla dalam perhelatan Java Jazz tersebut, merupakan yang kedua kalinya sejak 2008. Saat itu Kalla hadir bersama keluarganya pada akhir penyelenggaraan.

Jusuf Kalla menilai penyelengaraan Java Jazz terus berkembang maju.

Selama kunjungannya tersebut, Wapres sempat menyaksikan tampilan artis jazz asal Virginia Jason Marz. Dalam penampilannya dalam Java Jazz 2009 Jumat (6/3) malam Marz membawa sembilan lagu termasuk top hit-nya berjudul “I`m Yours”.

Usai menikmati lantunan Marz, Wapres dan rombongan mengunjungi stand alat musik di areal pertunjukan dan sempat memainkan sejenak alat musik ketipung.

Sementara itu, usai mennggelar jumpa wartawan Peter F Gontha selaku Ketua Java Jazz menyerahkan buku seputar empat tahun penyelenggaraan Java Jazz kepada Ibu Mufidah Jusuf Kalla.

Perhelatan Java Jazz 2009 menghadirkan lebih dari 200 pertunjukan dengan total musisi yang berpartisipasi lebih dari 2.000 orang, baik musisi Indonesia maupun mancanegara.

Java Jazz 2009 juga menghadirkan sederet artis jazz, di antaranya Jason Mraz, Matt Bianco, Swing Out Sister, New York Voices, Mike Stern, Dave Weckl, Peabo Bryson, dan Brian Mc Knight.

Sementara dari dalam negeri akan tampil Benny Likumahuwa, Oele Pattiselanno, Margie Segers, Bob Tutupoly, Noor Bersaudara, Chaseiro, Dewa Budjana, Glen Fredly, Tohpati, Aksan Sjuman, Tompi, Ecoutez, Dira, Dimi, dan Nial Djuliarso.

Sumber : Antara News

Syaharani “Crossover”

Posted On March 7, 2009

Filed under Latest News
Tags:

Comments Dropped leave a response

Penyanyi Syaharani (37) akan tampil di JavaJazz pada Sabtu (7/3) pukul 19.30. Penyanyi bersapaan Rani itu tampil dengan bendera Syaharani and The Queenfireworks, yang antara lain didukung gitaris Donny Suhendra. Mereka membawakan apa yang disebut Rani sebagai musik crossover atau lintas genre.

”Dengan crossover, saya ingin tunjukkan bahwa jazz punya banyak subjenis, ada fusion, ballad, mainstream, dan banyak lagi. Ibarat lukisan, crossover itu warna-warni, bukan hitam putih,” kata Rani yang dalam penampilan kali ini didukung juga oleh Ritmik Percussion yang berawak para guru drum, termasuk Sandi, drumer Pas Band.

”Yang crossover itu bukan hanya musiknya lho. Umur pemainnya juga crossover, he-he-he…,” kata Rani berseloroh.

”Pemain kita yang termuda berusia 19 tahun dan yang paling tua berumur 50. Crossover kan? Lintas umur,” katanya.

Justru karena lintas usia, Syaharani and The Queenfireworks, kata Rani, menjadi dinamis. Musisi muda bisa belajar dari musisi senior. Begitu juga sebaliknya.

”Katanya band itu personelnya harus anak muda semua supaya laku.

Bagi kami, yang penting kecocokan. Kita bisa berbagi pengalaman, yang muda-muda

bisa meng-update

kita-kita tentang musik sekarang ini,” kata Rani menambahkan.

Sumber : Kompas Entertainment

Next Page »